mengejar san siro milan 2

sambungan dari bagian 1
sebelum kuteruskan, ada baiknya kuceritakan dulu masalah pencarian info yang kulakukan tentang visa italia (scenic)

setelah aku positif akan mengambil hadiah itu, pihak adidas memintaku untuk segera mencari tahu bagaimana mengurus visa italia. lalu memberi pilihan padaku apakah mau mengurus sendiri atau mengurusnya melalui agen/biro perjalanan. tetapi sebelum menentukan pilihan, aku cari tahu dulu tentang visa italia ini.

melalui webnya aku tahu kalau ingin mengurus visa italia berarti mengurus visa schengen. ini adalah visa bersama untuk negara uni eropa. prosesnya cukup lama, hingga 14 hari, karena katanya harus melakukan koordinasi dengan semua negara peserta perjanjian schengen. biayanya sekitar 700 ribu rupiah.

kita harus mendaftar/memesan/membuat perjanjian terlebih dahulu. jadi tidak bisa datang langsung ke kedubesnya. dan ketika kulihat, jadwal mereka sudah penuh sampai tanggal 13 desember, kecuali hari jumat (19 november). setelah melihat itu, aku langsung lemas. bakalan ga bisa dapat visa tuh, keberangkatannya aja diperkirakan tanggal 6/7 desember.

hal ini kusampaikan ke pihak adidas. akhirnya mereka mau membantuku dalam mengurus visa. katanya, mereka akan menghubungi suatu agen perjalanan. syaratnya, dokumen harus dilengkapi hari senin. makanya aku buru-buru ke jakarta.

setelah selesai menyiapkan perjalanan ke jakarta, selanjutnya adalah mencari beberapa kemungkinan tempat untuk tinggal. aku kontak seorang temen esde yang kini tinggal di jakarta. kutanya apakah dia tinggal di dekat sudirman. sayangnya tidak. jadi kukontak teman lainnya, dan yang terpikir adalah agung, temanku sesama depeem di himastron dulu. pasnya lagi, dia tinggal di karbela alias karet belakang (aku baru sadar karbela ada kepanjangannya setelah desember (Lol) ). kenapa aku mencari teman yang dekat dengan sudirman? karena adidas yang di jakarta terletak di jalan sudirman. dan kebetulan juga, lokasi kosan agung relatif dekat dari gedung kantor adidas. berjalan kakipun tidak melelahkan.

hari minggu
aku berangkat ke bandara. dari tenggarong, bandara sepinggan balikpapan berjarak 3 jam perjalanan. dan aku berangkat pukul 5 pagi dari tenggarong karena pesawatnya berangkat pukul 11.

oya, aku berangkat ke jakarta itu tanpa membawa sabun, shampo, dan pasta gigi. aku tidak ingin benda-benda cair itu malah disita petugas di bandara karena aku tidak membawa tas yang masuk ke bagasi. kedua tas yang kubawa kumasukkan ke kabin. masalah gimana mandi di jakartanya, itu urusan belakangan (akhirnya minta ke agung selama beberapa hari, dan akhirnya beli sendiri) đŸ˜€

di dalam pesawat citilink, satu hal yang menarik adalah para pramugarinya tidak menggunakan pakaian formal. mereka memakai kaos berkerah, bercelana pendek, dan sepatu olahraga. kesannya sangat bertolak belakang dengan kebanyakan penerbangan lainnya (applause)

sampailah aku di soetta. nah, karena bandara soetta sangat jauh dari kosannya agung dan agung ga mungkin jemput aku di bandara, maka aku menggunakan bis damri dari bandara ke gambir. nah, kalo dari gambir agung mau jemput. tiketnya 20ribu, lama perjalanan antara 30 -45 menit. di dalam bis, aku berbincang dengan orang yang duduk di sebelahku. dia nampak terkejut mengetahui aku mendapat hadiah seperti itu. jangankan dia, aku aja terkejut kok (LOL)

sesampainya di gambir, aku menelepon agung. dia ternyata menjemputku dengan mengendarai sepeda motor! sebuah kejutan juga karena terakhir kali aku membonceng agung, dia sukses menabrak tiang rambu lalu lintas di depan labtek 3 (lmao) kini motornya honda beat, dan dia mengendarainya dengan laju tinggi! ngerilah skarang mah. dan yang bikin kaget lagi, dia ga punya sim! (doh)

akhirnya sampailah kami di kosan agung dengan selamat, setelah sebelumnya sempat kehujanan dan berteduh sebentar. sepanjang hari hingga malam, kami nonton film avatar versi hd. sayangnya di situ ga ada kabel lan, padahal harddisk di laptop masih banyak ruang kosongnya. harusnya aku bisa ngopi banyak film dari agung (annoyed)

senin pagi
aku ke adidas untuk menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan minus surat referensi bank. merasa tugasku sudah selesai, aku pun berniat untuk pergi ke bandung sorenya. dari kosan agung aku naik ojek ke gambir karena agung sedang kerja. biayanya 20ribu. menggunakan argo parahyangan, aku pun berangkat dari gambir.

di perjalanan, tiba-tiba aku ditelpon orang adidas. katanya, aku harus menyerahkan paspor asliku, bukan hanya fotokopinya. padahal sebelumnya hanya dibilang fotokopinya saja yang diserahkan. akibatnya, aku bingung antara meneruskan perjalanan ke bandung atau kembali lagi. waktu menerima telepon itu kereta sedang menuju bekasi. setelah berpikir sebentar dan didesak kereta yang segera sampai bekasi, akhirnya kuputuskan untuk turun di bekasi dan kembali lagi ke gambir. daripada kembali ke jakarta setelah sampai bandung, pasti akan lebih melelahkan.

jadilah sore itu aku menjajal kereta patas jurusan bekasi-gambir. lumayan, tambah pengalaman. keretanya sangat sepi, kontras dengan kereta dari gambir yang penuh sesak. dan untuk pertama kalinya aku lihat gerbong khusus wanita. oya, di stasiun itu, sembari menunggu kereta, aku memperhatikan satpam yang terus-menerus ditanya orang apakah kereta yang akan mereka tumpangi datang pukul berapa. semoga kesabaran selalu menyertaimu pak (goodluck)

di kereta, aku telpon agung untuk menjemputku kembali di gambir. dia menertawaiku karena sebelumnya dia sudah bilang untuk tinggal beberapa hari lagi di jakarta. sial (annoyed)

apa kabar paspor masku? ternyata tetap tidak bisa selesai hari senin. jadi, kupaksakan agar adikku saja yang ikut denganku. dan aku sangat berharap agar masku mau membantunya menguruskan berkas-berkas yang diperlukan. kutargetkan hari selasa harus selesai semua berkasnya.

lewat telepon, adikku kusuruh mempersiapkan segalanya. termasuk bikin kartu nama. heran ga sih, ngurus visa perlu kartu nama? kusuruh dia ngeprint di satu halaman a4 saja, biasanya bisa dapat 10 lembar. jadi tidak perlu bilang ingin buat kartu nama. tetapi yang dia dapat malah kartu nama 100 lembar. mubazir deh tuh.

oya, aku dapat kabar kalo surat referensiku yang dari bank muamalat samarinda udah jadi. betapa baiknya, mbak petugasnya mau mengirimkan versi digitalnya kepadaku. lumayan, bisa jadi pegangan darurat. tapi aku tetap cari surat yang sama dari bank di jakarta.

hari selasa
adikku harus ke kampus untuk membuat surat keterangan kuliah lalu ke bank membuat surat referensi. tadinya kumintakan tolong ke masku agar adikku bisa diantar ke kedua tempat itu supaya lebih cepat. tapi ternyata ga bisa, ada urusan katanya. alhasil, urusan adikku jadi sangat lambat. baru beres dari kampus sekitar pukul 12. ck, okelah. lanjut aja.

di bank, ada masalah lagi. surat referensi tidak bisa ditandatangani karena pejabat yang berkepentingan tidak ada di tempat (kalau tidak salah ingat (thinking) ). karena tidak ingin membuang waktu, ia kusuruh berangkat malam itu juga. dengan asumsi surat referensi bisa dibuat di jakarta. jadilah sama sepertiku, tanpa surat referensi bank, ia pun berangkat ke jakarta malamnya menyusulku. dan ternyata ditemani masku.

di kosan agung, ternyata ada 1 kamar yang kosong. akupun menyewanya untuk 2 minggu. katanya, tarifnya setengah dari tarif sebulannya (300ribuan). lumayanlah, daripada adikku kuinapkan di hotel/losmen yang tarifnya sampai 100ribu perhari.

hari rabu
adik dan masku di kosan aja. sorenya, aku dikabari pihak adidas kalau surat referensi bank mutlak diperlukan. lagi-lagi informasi seperti ini baru kuketahui sore, saat ga bisa melakukan apa-apa karena bank pasti sudah tutup (angry) . terpaksa semua dilakukan esok harinya. malamnya, masku balik lagi ke yogya.

hari kamis
aku dan adikku pergi ke bank untuk membuat surat referensi. pertama kami ke bni, kebetulan di dekat situ ada kantor pusatnya. sebenarnya rekening adikku adalah bni syariah. tapi kuasumsikan bni pusat bisa mengurusnya. tapi ternyata tidak! X-( mereka meminta kami ke kantor bni syariah yang juga ada di dekat situ. kebetulan lagi, letaknya dekat dengan kantor bank muamalat juga. ya sudahlah, kami ke situ saja.

di kantor bnis yang dituju, kami kecewa lagi! ternyata mereka tidak mau mengeluarkan surat referensi kalau bukan rekening yang dibuka di situ. mereka merekomendasikan bnis pusat. kenapa bank ini ga bisa membuatnya sementara yang di yogya bisa? padahal adikku membuka rekeningnya di semarang (angry)

kami coba lobi pihak bnis agar mau membuatnya. sebenarnya mbak petugas csnya sangat kooperatif, dia mau mencari tahu lebih lanjut tentang pembuatan surat itu melalui telpon ataupun ke atasannya langsung. saking kesalnya, sepertinya segala cara akan kulakukan, bahkan membayar berapapun, agar surat referensinya jadi (fish_hit)

selagi menunggu keputusan akhir, aku tinggalkan adikku untuk pergi ke bank muamalat yang terletak di dekat situ. pertama masuk kantornya, aku ditanya satpam keperluanku apa. kubilang membuat surat referensi, dia merujukku ke kantor lain yang ada di lantai atas gedung itu. di tempat yang dituju, ternyata surat itu dibuatnya di bawah. makjang! aku simpulkan satpamnya ga tahu apa-apa tentang surat itu. akhirnya aku ke bawah dan memasang muka masam di hadapan satpam itu. kubilang kalo dia salah (nottalking)

di situ, akhirnya aku berhadapan kembali dengan cs bank muamalat. surat referensi memang bisa dibuat, tapi dengan biaya 50ribu! (angry) aku heran dan menanyakan kenapa ada biayanya, karena di samarinda tidak dikenai biaya. tapi berhubung ga ada pilihan lain, ya sudahlah. surat itu baru bisa kuambil keesokan harinya (jumat).

setelah dari bank muamalat, aku kembali ke bnis menemui adikku. katanya tetap tidak bisa. huh, sedihnya . . . tapi kemudian timbul ide, yaitu menyelesaikan surat referensi yang di yogya. lalu surat itu dikirim ke jakarta. masih ada harapan, walaupun timbul rintangan lagi. adikku harus membuat ulang surat permohonannya. memang surat itu bisa dikirimkan melalui faks. tapi gimana caranya mengirimkannya?

ide lain pun muncul. kuhubungi teman-temanku yang berkantor di jakarta untuk kumintai tolong mengirimkan faks itu. yang kukontak adalah way dan desima. tidak ada respon dari way tapi ga masalah karena desima bersedia membantu (worship) . jadilah aku ke warnet untuk mengirimkan berkas yang diperlukan. pertama, surat yang sudah ditandatangani itu discan, lalu kukirim via email ke desima. ia yang kemudian mencetaknya dan mengirimkannya via faks.

aku sempat berpikir masalah beres, ternyata belum. faks yang dikirimkan tidak semuanya sampai. ada yang kurang. akhirnya kuminta tolong desima untuk mengirimkannya ulang. dan kali ini beres. akhirnya, suratnya jadi. sekarang masalah pengirimannya.

di yogya, mas dan mamaku mencoba mencari jasa kurir. saat itu sudah hampir pukul 5 sore, dan katanya sedang hujan. ternyata semua jasa kurir yang didatangi tidak bisa menjanjikan pengiriman sampai di jakarta pagi hari. pilihan selanjutnya adalah diantarkan langsung. tetapi siapa yang akan mengirimkannya? masku terlihat segan, mama sepertinya tidak mungkin. akhirnya kuputuskan apakah surat diantar atau tidak ditentukan sekitar pukul 8 malam, sebelum kereta terakhir jurusan yogya-jakarta berangkat.

malamnya, aku kembali mendapat kabar buruk. kemungkinan untuk berangkat berdua kandas. adikku tidak bisa diikutsertakan dalam pengurusan visa karena tidak ada berkas yang dimasukkan hingga hari kamis. katanya, jadwal penyerahan berkas yang berikutnya adalah hari selasa pekan depan. karena selisih waktu antara hari selasa itu dengan hari keberangkatan hanya kurang dari seminggu saja, pihak agen perjalanan tidak mau memaksakan diri untuk memasukkan berkas adikku. mereka beresiko kehilangan kerja sama/kepercayaan dari kedubes dalam mengurus visa italia. jadilah adikku gagal memasukkan permohonan visa.

setelah keputusan itu, akhirnya surat referensi bank yang ada di yogya tidak jadi dikirim. lalu untuk apa kami ribet dengan segala urusan surat referensi adikku? (tears)

bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *