saat kekasih menderita kanker

peringatan, tulisan ini panjang.

tahun 2019 adalah sebuah roller coaster bagiku. ada rasa bahagia karena anak kami yang ke-2 sudah berusia 1 tahun. lagi lucu-lucunya tuh. juga karena anak pertama kami sudah saatnya masuk sd di pertengahan tahun. kami bersyukur dengan keadaan kami saat itu.

seperti anak kami yang pertama, asi masih akan terus kami berikan ke anak kami yang kedua hingga usianya 2 tahun. namun di tahun 2019 itu istriku mulai merasa ada benjolan di dadanya. sebenarnya sudah dari tahun 2018 akhir, tapi masih begitu kecil sehingga ga terlalu kami khawatirkan.

berhubung ia masih menyusui, maka benjolan tersebut masih kami curigai sebagai efek menyusui saja. mirip seperti yang pernah dialami ketika menyusui anak pertama dulu. saat itu benjolan tersebut akhirnya hilang dengan sendirinya.

selain ada benjolan, ia juga mulai merasakan nyeri di leher dan/atau belakang pundak kanan, terutama ketika menggendong. kami kira ini efek akibat sering menggendong di sebelah kiri, nyaris ga pernah di sebelah kanan. sehingga jarik/kain gendongan selalu dibebankan di bahu kanan.

kontrol ke dokter

akhirnya kami mulai periksakan benjolannya tersebut ke dokter, agar mendapat kejelasan tentang statusnya. awalnya kami mendatangi dokter umum di faskes pertama dengan memanfaatkan bpjs. akhirnya dirujuk ke bedah umum di cimahi. pemeriksaan penunjang seperti usg sudah dilakukan, namun tentu saja dokter belum bisa memberi kepastian diagnosis. masih disebutkan antara benjolan jinak atau ganas. keputusannya adalah jaringannya harus diambil melalui dioperasi & dites. kalau tidak salah harus pakai operasi besar, karena sekalian benjolannya diangkat.

sebagai pembanding alias untuk mencari second opinion, kami juga mendatangi dokter bedah onkologi yang praktek di rs melinda, bandung, yaitu dr dradjat. karena bukanya malam, kami pun di sana sampai jam 10. aku harus mengasuh kedua anakku ketika istriku masuk ke ruang periksa. kebetulan di situ ada restonya, anak-anak yang lapar pun akhirnya kubelikan makan. lumayan jadi bisa anteng, kalau tidak, mereka maunya keliling/jalan-jalan karena interiornya seperti hotel/mall dan menarik. apalagi ada arena play groundnya. menurut dokter, benjolan itu jinak. tapi akan dipastikan dengan biopsi melalui operasi minor.

nyeri hebat

namun belum sempat kontrol kembali, nyeri di tengkuk istriku menghebat di hari sabtu malam, 9 november 2019. saat itu dia yang baru saja terbangun dari tidur jadi tidak bisa bergerak karena nyeri luar biasa. setelah itu hanya bisa duduk bersandar dan tidak bisa tidur sampai pagi. padahal saat itu anak pertama kami sedang sakit. kami pun meminta bantuan saudara sepupu istriku yang ada di bandung untuk mengantarkannya ke rumah sakit di pagi harinya. sementara keluarga di jogja baru bisa ke bandung keesokan harinya.

di pagi hari, saudara datang dan mengantarkan istri ke rs terdekat, di cahya kawaluyan. di sana alhamdulillah bisa pakai bpjs. aku bertiga bersama anak-anak di rumah sambil harap-harap cemas. selain karena sakitnya istriku dan anak sulung kami, juga karena si bungsu masih menyusui dan begitu lengket dengan ibunya. malam itu di rs, istriku ditemani saudara sepupu yang lain lagi. lewat tengah malamnya, alhamdulillah keluarga jogja pun sampai.

operasi pertama

di rs, nyeri yang dirasakan sudah berangsung berkurang, kemudian beberapa tes juga dilakukan. ada rontgen & usg. bedanya, hasil foto usg di sini jauh lebih banyak dari di cimahi sebelumnya. akhirnya diputuskan bahwa benjolan akan diangkat semua pada hari jumat, 15 november 2019. tapi ada perubahan dari yang awalnya dijadwalkan jam 2 siang jadi jam 9 pagi.

paska operasi ternyata ada beberapa hal yang tidak biasa. kebetulan kakaknya istriku adalah perawat, dia sempat menemaninya paska operasi menggantikan ibu yang sebelum operasi terus menemani. drain untuk mengalirkan darah paska operasi tidak berfungsi dengan normal sehingga istriku mengalami pendarahan. bahkan seprei diganti beberapa kali hanya dalam 1 hari. perawat yang bertugas bahkan sempat memperlihatkan wajah panik. untungnya dokter yang berjaga bisa tetap tenang dan masalah pun bisa diatasi.

kalau tidak salah ingat, hari senin istri sudah diperbolehkan pulang. hasil patologi anatomi (pa) akan diketahui 1 minggu setelahnya, sekalian jadwal kontrol ke dokter. sebelum itu, perban harus diganti rutin, awalnya dilakukan oleh kakaknya. aku sambil lihat & belajar biar aku bisa ganti perban juga. selain di rumah, bisa juga dilakukan di faskes 1 yang jaraknya cukup dekat. alhamdulillah staf faskes 1 sangat baik dan perhatian.

vonis kanker

hari senin tiba untuk kontrol ke dokter. kami pasrah walau terus berdoa. namun takdir berkata lain, benjolah yang sudah diambil itu ternyata kanker. sedihnya tak tertahankan, namun di depan dokter kami berusaha terlihat tenang. cara komunikasi dokter juga berubah, jadi tampak lebih ramah.

istriku pun dirujuk ke rumah sakit yang ada dokter bedah onkologinya. saat itu kami pilih dr drajat lagi yang setahu kami buka praktek juga di rs santosa.

di luar, kami menyingkir mencari area yang agak sepi. dan air mata itu pun tak tertahankan lagi. entah berapa pertanyaan yang muncul di kepala kami saat itu, tapi ga ada yang bisa kami jawab satu pun yang kami yakin kebenarannya. kami hanya bisa berpikir positif, mencoba ambil hikmahnya walau sulit sekali saat itu. dalam keadaan terpuruk sangat dalam seperti itu, satu-satunya jalan adalah bangkit dan memanjat asa lagi. perlahan. tapi pasti.

sebelum ke santosa, kami cari tahu jadwal praktek dokternya. ternyata dr dradjat tidak ada, adanya dr maman abdurahman. kebetulan beliau praktek juga di rs hasan sadikin. jadilah kami mencoba menemuinya di rshs dulu, tapi hanya ada di klinik eksekutif. saat itu, masalah lain kami konsultasikan juga ke beliau. yaitu area bekas operasi yang jadi agak bengkak dan ada bagian yang agak padat, kata dokter itu banyak darah dalam bentuk cairan dan beku. beliau coba buka 1 jahitan lalu ditekan-tekan sehingga cairannya keluar. dokter pun memberikan resep obat dan menyuruh kami untuk kontrol ke tempat praktek pribadinya di apotek papandayan. waktu itu jadwal prakteknya senin-jumat kecuali rabu, pk 17-20. bagi pasien yang belum terdaftar, harus datang langsung untuk mendaftar. jika sudah terdaftar, bisa melakukan pendaftaran melalui WA.

tes pa

selain kontrol, kami juga konsultasi mengenai prosedur kontrol di rs santosa menggunakan bpjs. katanya kami disuruh untuk menguji lab (tes patologi anatomi atau pa) dari sampel jaringan yang diambil oleh dokter di rs cahya kawaluyan ke santosa. jadi kami harus ambil sampel di rsck lalu dibawa ke rs santosa. untuk itu aku ke rsck bagian lab dan mengisi formulir, lalu diberikan sampel jaringan. bentuknya seukuran kotak korek api, dengan alas stainless dan berisi/berlapis lilin. katanya jangan sampai kepanasan. jadi waktu itu aku bungkus dengan plastik seal lalu dilapisi plastik seal lagi yang berisi koran/kertas yang dibasahi. maksudnya supaya tetap dingin. aku dapat ide ini dari temen sekantor dulu yang membawa coklat cha-cha kiloan dengan dilapisi koran basah.

tes pa ini tidak ditanggung bpjs, satu tes sekitar 400.000 dan dokter mengharuskan kami untuk lakukan 3 tes yaitu ER, PR, dan HER2. hasilnya keluar 2 minggu kemudian, dan akan digunakan sebagai acuan dalam menentukan langkah pengobatan dan pembuatan resep kemoterapi.

hasil pa

akhirnya hasil pa keluar dengan hasil ER positif, PR positif, dan HER2 negatif. ketika konsul pertama di santosa menggunakan bpjs pun kami tunjukkan hasil itu. dokter pun membuat resep untuk kemoterapi. beliau memberi opsi untuk kemo di santosa atau di klinik perisai husada di jalan halmahera, dekat gor saparua bandung. berhubung harus segera, kami pun jadwalkan kemo pertama istri di klinik tersebut dan beliau memberikan surat pengantar. barulah kemo ke-2 kami jadwalkan di santosa.

katanya beliau kenal dekat dengan perawat bagian kemo di klinik itu. kemo tahap pertama dijadwalkan 4x dulu dengan jeda 3 minggu. setelah itu akan dievaluasi bagaimana hasilnya. kemo ini selain bertujuan untuk mematikan sel kanker yang mungkin masih ada, juga untuk meredakan pembengkakan dan pendarahan di luka bekas operasi.

menurut prosedur kemo menggunakan bpjs di santosa, kami diharuskan membeli map berwarna merah yang ada penjepitnya. lalu fotokopi segepok berkas tiap mau kemo, masukkan ke dalam map tersebut dan serahkan ke bagian pendaftaran. sayangnya, klinik kemo (ods, one day surgery) di santosa bandung ini lokasinya kurang menyenangkan. waktu itu lokasinya ada di basement, dari lift gedung utama harus menyeberangi jalur kendaraan yang panas dan pengap. semoga nanti ada perubahan jadi lebih baik, demi kenyamanan pasien.

sebelum kemo, kami sudah cari-cari informasi mengenai kemo. misalnya efek kemo yang akan merontokkan rambut, bikin mual hebat, kemudian sehari setelahnya sebisa mungkin pisah tinggal dari anak kecil karena cairan tubuh disebutkan mengandung zat berbahaya yang bisa memicu kanker. ketika kontrol, kami konfirmasi info tersebut ke dr maman, dan katanya sebagian benar, sebagian lagi salah.

kemo pertama tanggal 11 desember. untuk antisipasi, kami cari penginapan yang ada dapurnya untuk tempat menginap semalam. dengan dibantu oleh teman-teman, akhirnya kami dapat sewaan kamar apartemen di jl cihampelas untuk kemo pertama. sebelum kemo, istriku diharuskan tes darah sehari sebelumnya. kemudian di hari pelaksanaan kemo, istriku diberikan obat anti mual (kalo ga salah sih ondansetron) berbentuk tablet. dalam resep kemo itu ada 2 obat, lalu menurut prosedur standarnya ada tambahan 1 infus biasa. pertama diberikan infus biasa, lalu obat 1, (lupa diberi infus biasa lagi setelahnya atau langsung lanjut), obat 2, lalu infus biasa lagi (disebutnya flush, untuk mendorong/”membersihkan” obat kemo di dalam vena). total berlangsung sekitar 3 jam. efek mual cukup cepat terasa, apalagi istriku memang punya penyakit lambung (antara gerd, asam lambung naik, atau maag, yang membuatnya cukup rutin kembung hampir tiap hari).

setelah dari klinik kami pun menuju apartemen. sempat bingung bagaimana cara mendapatkan kunci kamarnya, karena ini baru pertama kami sewa kamar di apartemen. ga kayak hotel yang ada resepsionisnya di lobi, di sini aku nelpon saja pihak pemilik kamar. akhirnya diberi petunjuk dan kami pun dapatkan kuncinya. kunci ini ternyata digunakan juga sebagai akses lift, yang hanya bisa untuk lt dasar dan lt tempat kamar berada. di kamar yang agak bau rokok dan pengap, kami pun akhirnya bisa istirahat.

sebenarnya aku agak lupa jadwal kemonya, yang harusnya bisa dilihat di arsip/berkas berobat. tapi aku lupa simpannya di mana karena sudah dipisahkan di suatu kardus, jadi tadi aku dapat tanggal-tanggalnya dari timeline di google maps. pelaksanaan kemo istri saat itu adalah 11 desember 2019, 2 januari, 23 januari, dan 13 februari 2020. dari penelusuran itu juga ketauan ketika istriku harus rawat inap di rumah sakit paska kemo, yaitu tanggal 15-18 desember 2019, 16-18 januari, 4-5 februari, dan 11-12 maret.

efek kemo

akan di update terus sampai selesai. pelan-pelan gpp ya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.